Sergey Brin, si Bos Google Akhirnya Nge-Blog

23 09 2008

Google co-founder Sergey Brin akhirnya memutuskan untuk mulai ikutan membuat blog. Brin merupakan orang yang tidak asing untuk kalangan industri dunia maya. Ia tidak hanya membuat heboh dunia maya dengan memunculkan mesin pencari yang kini digunakan oleh miliaran orang di dunia. Namun untuk urusan nge-blog, Brin baru menyadari kegunaannya saat ini.

Dilansir melalui AFP, Senin (22/9/2008), banyak spekulasi yang muncul terkait langkag Brin ini. Menurut para kritikus, aksi nge-blog Brin dikarenakan baru kali ini ia baru memiliki kesempatan untuk menulis dalam sebuah blog. Namun banyak juga yang berpendapat bahwa langkah ini ia lakukan untuk mendongkrak popularitas situs blog milik Google, dengan nama Blogger, yang ia beli sejak awal 2003 lalu.

Postingan pertama Brin, yang ia tulis Kamis lalu, berisi tentang kekhawatirannya mengidap penyakit Parkinson. Pasalnya, sang ibu saat ini pun sedang mengidap penyakit yang sama, dan kemungkinan penyakit itu menurun ke dirinya sangatlah besar.

Kekhawatiran ini juga didapatnya setelah ia menjalani tes perdana yang dilakukan perusahaan riset Gen dan DNA milik istrinya, Anne Wojcicki, yang diberi nama 23andMe. Perusahaan riset gen tersebut mensinyalir Brin memiliki kemungkinan yang besar untuk mengidap penyakit tersebut karena keterikatan hubungan gen dirinya dengan sang ibu sangatlah kuat.

“Saya memang sempat khawatir dengan hasil riset tersebut. Namun saya akan berusaha untuk mencegah kemungkinan itu terjadi. Jika pun memang tidak bisa dihindari, saya berusaha untuk melakukan antisipasi dengan membuka segala kemungkinan penyembuhan yang ada,” tulis Brin dalam blog pribadinya tersebut.

Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, Brin pun telah bekerja sama dengan The Parkinson Institute dan yayasan Parkinson milik aktor lawas Michael J Fox. Brin mengeluarkan banyak uang untuk membantu kedua institusi tersebut melakukan riset demi mencari obat yang ampuh untuk penyembuhan penyakit tersebut.

Berdasarkan data yang dipaparkan Brin, semua orang dapat mengecek jenis gen dan relasi darahnya di perusahaan yang didirikan oleh Anne Wojcicki dan Linda Avey dua tahun lalu itu. Biaya yang dibebankan pun cukup murah, hanya USD399 per orang.





Google Akan Membuat Data Center Apung?

17 09 2008

Hak paten yang diminta Google dua tahun lalu tetapi baru dipublikasikan belakangan ini menjadi sorotan industri komputer karena sangat menarik. Dalam pengajuan paten berjudul ‘Water Based Data Center’ ini Google memaparkan idenya untuk membangun sebuah data center di tengah laut, lengkap dengan pembangkit listrik tenaga air yang mengubah ombak menjadi listrik.

Data center tengah laut ini akan menggunakan salah satu sumber daya alam yang tak terbatas, air untuk mengoperasikan sekaligus mendinginkan komputer-komputer miliknya. Selain tidak perlu membayar biaya listrik, lokasi data center Google di tengah laut juga berarti Google tidak perlu membayar pajak tanah maupun pajak lainnya apabila ditempatkan di luar perairan bebas. Di bawah ini adalah gambar yang diambil dari pengjuan hak paten Google.

Gambar Data Center Apung Google

Dalam pengajuan hak paten yang dilihat The Times, Google menulis bahwa mereka ingin membangun ‘pusat komputasi di atas sebuah atau beberapa buah kapal yang terapung di atas air di mana gerakan air secara alamiah dapat diubah menjadi listrik dan/atau digunakan oleh pipa-pipa pendingin untuk melawan panas.’

Jumlah data center yang semakin membengkak dalam beberapa tahun terakhir ini untuk mengantarkan informasi dari situs-situs populer. Banyak perusahaan besar berusaha untuk mencari ide radikal untuk mengurangi biaya operasional seperti Microsoft yang memilih lokasi berbiaya listrik murah atau Intel yang ingin membangun data center portabel.

Untuk menyelesaikan masalah ini, Microsoft telah mempertimbangkan rencana pembangunan data center di Siberia yang beriklim dingin, sedangkan Sun Microsystems berniat membangun sebuah data center di tambang batu bara yang sudah tua, menggunakan air tanah sebagai pendingin. Sun mengatakan bahwa mereka dapat menghemat biaya sebesar $9 juta per tahun dan hanya menggunakan 50% dari daya listrik yang dibutuhkan apabila membangun data center di atas permukaan air.

Para ahli teknologi mengatakan bahwa ide Google, walaupun tidak dapat diduga sebelumnya, sangat pintar. Rich Miller, penulis blog datacenterknowledge.com mengatakan bahwa solusi ini ’sangat inovatif, dengan pemikiran out of the box.’

Google menolak memberitahukan apakah dan kapan ide ini akan rampung. Google mengatakan bahwa mereka ‘mengajukan permintaan paten berdasarkan berbagai ide. Sebagian ide di kemudian hari berubah menjadi produk, layanan atau infrastruktur yang matang, sebagian lagi tidak.’

sumber